Select Page

Memang, kita di mana-mana dianjurkan untuk positive thinking. Tapi di waktu yang sama, saya juga menganjurkan proportional thinking.

Perlu contoh?

Anda lagi berjalan seorang diri di jalan yang gelap. Malam-malam. Beberapa menit kemudian, muncullah bayangan seorang laki-laki. Dia mendekat ke Anda. Bukan itu saja, dia menenteng sebuah clurit.

Terus Anda berlagak berpikir positif, “Ah, mungkin dia mau ke sawah. Makanya bawa clurit. Atau, dia lagi jualan clurit. Sisa satu, belum laku.” Boleh seperti itu?

Begini. Yang saya anjurkan di sini adalah proportional thinking. Dan berhentilah berpikir positif. Maksudnya? Lari! Sekali lagi, lari!

Selama ini, motivator-motivator sering menyerukan positive thinking. Tapi pada prakteknya, sangat sulit. Bahkan sering berujung pada kekacauan. Kenapa? Karena tidak diimbangi dengan proportional thinking.

Pesan mentor saya
Ippho Santosa

Join Bisnis